Cinta, Nafsu, dan Hubungan

Oleh : El Faroq

Cinta, sebuah kata yang bekerja secara magis. Layaknya sebuah energi yang tidak tampak wujud dan bentuknya secara kasat mata. Namun, mampu memberikan dorongan kepada manusia hingga melahirkan perjuangan dan rela berkorban. Cinta itu fitrah,dalam penciptaannya Allah titiskan cinta ini ke dalam sanubari manusia.

Dalam memaknai cinta,tidak akan cukup apabila dibahas satu atau dua lembar halaman. Namun, adakah orang yang tidak mengenal kata “cinta”. Semua orang membicarakannya, mereka berhak atas itu dan menempatkannya sebagai pondasi jiwa. Tanpa ragu, mereka lakukan suatu tindakan dengan mengatasnamakan cinta. Maka, cinta itu sukar, rumit, dan tidak begitu jelas pengertian dan definisinya, namun, sangat jelas betapa orang menyebutnya “cinta”.

Ketika cinta tersandung oleh nafsu, masihkah disebut cinta?. Kita mulai dengan kisah kita, manusia. Bayi lahir atas dasar cinta–meski tidak jelas apakah itu berasal dari hubungan yang sah atau tidak–. Di sekolah dasar ketika mulai menggandrungi lawan jenisnya orang menyebutnya “menanam benih cinta”. Memasuki usia remaja, menginjak bangku SMP atau SMA. Perbuatan mesum dan hina, meninstakan diri sendiri diklaim sebagai bagian dari cinta. Lantas, dimana letak perbedaan cinta dan nafsu.

Silahkan, sebut saja hal itu sebagai bagian dari cinta, cinta yang “HINA”. Cinta yang diperbudak oleh nafsu, digandeng dalam sebuah hubungan yang tidak baik. Dimulai dari hubungan sebatas obrolan via handphone, memulai memadu kasih dengan pesan-pesan mesra, hingga akhirnya mulai berani jalan berdua tanpa ikatan yang sah. Hal yang awalnya sederhana dan tidak serius menjadi sesuatu yang intens dan menggairahkan. Namun, penuh akan kehinaan.

Terlihat bagaimana nilai manusia begitu rendah dengan nafsu. Ketahuilah manusia itu lemah, sehingga ketika manusia mengikuti nafsu maka ia sedang berusaha berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran. Sebagai mana firman Allah :

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Allah mengetahui bahwa manusia itu lemah. Tidak tahan akan godaan dan akhirnya engkau ikuti nafsu. Sungguh, engkau adalah pejuang yang tangguh dan mulia, jika engkau mampu mengendalikan nafsu.

Semoga Allah memberikan kekuatan dalam mengendalikan nafsu kita, Allah jaga iman kita, Allah berikan hidayah, Allah ridha cinta kita kepada-Nya.

Referensi

~ Book : Sahabat Pena Nusantara.2016.Quantum Cinta penerbit.Malang:Genius Media

~ Lecture : Sheikh Belal Assad – love,Lust, and Relationship

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *