Impian Vs Angan-angan

Banyak angan-angan itu buruk. Itu sudah banyak kita pahami. Tapi bagaimana dengan tinggi impian? Apa itu juga buruk?

Seringkali orang menganggap impian itu sama dengan angan-angan. Sehingga mereka menjauhi impian. Bahkan “tidak berani” untuk bermimpi. Mereka juga “takut” untuk bercita-cita. Akhirnya, yang dilakukan pun sekedar hal yang ringan dan mudah. Sejak masa orde baru sampai reformasi ini, harus kita akui, tak ada impian sama sekali di negeri ini. “Yang penting rakyat makan. Yang penting mereka dapat kerja.” Begitu yang jadi opini umum negeri ini. Para pemimpin pun menjadi seperti orang tua yang lagi kepepet, ingin anaknya dapat pekerjaan. “yang penting anakku dapat jodoh. Yang penting anakku bisa sarapan.” Akhirnya, karena berpikir rakyat bisa makan, maka rakyat menjadi lahan eksploitasi perusahaan asing tak masalah. Sumber daya alam negeri ini dijual dengan harga murah tak masalah. Utang bejipun pun tak masalah. “Yang penting rakyat bisa makan dan dapat kerja.” Impian yang kecil, membuat pikiran terasa santai. Pertengkaran dan keributan pun terasa biasa. Tak terasa itu sebagai pemborosan waktu dan energi.

Beta beda dengan masa Rasulullah dulu. Kaum Muslim demikian tidak tanggung-tanggung dalam bermimpi : mengalahkan kekaisaran Romawi, adikuasa dunia zaman itu (sumber: hadist riwayat ahmad). Ini membuat pikiran mereka tercurah untuk hal-hal besar. Prestasi mereka pun luar biasa! Wilayah negara meluas. Pembangunan selalu bertambah. Intelektualitas menjadi budaya. Pada tahun 750 M, sekitar seabad sejak zaman Rasulullah, umat Islam mempunyai negara seluas 13,2 juta km2 (bandingkan : Indonesia hanya 1,9 juta km2) dengan penduduk 60 juta (ingat, itu sebelum masa pembangunan Candi Borobudur). Romawi pun menjadi negari kelas tiga setelah khalifah islam dan kekaisaran China. Padahal saat itu transportasi masih dengan unta dan komunikasi dengan tabuhan. Kemakmuran dan Intelektualitas juga terjaga. Bandingkan dengan negeri kita kini yang jauh lebih kecil tapi tak sanggup mengurusi dirinya.

Impian memang beda dengan angan-angan. Impian buka hal yang tabu.

Angan-angan lebih berupa lintasan-lintasan khayalan yang berseliweran di benak kita. Namun kita sebenarnya tak punya keyakinan dan gagasan untuk memperjuangkannya. Akhirnya tak ada yang kita ingat kecuali khayalan itu sendiri. Orang yang banyak angan-angan itu biasanya juga gampang kita ketahui  gaya bahasanya. Mereka banyak mengatakan “seandainya kalo…” ketika mengurus suatu kegiatan, ia tidak fokus menggarap agenda itu. Ia selalu berkata, “seandainya kalo punya…, pasti bisa.” Ia tidak ingat bahwa faktanya, ia harus bekerja dengan tidak adanya fasilitas yang ia butuhkan. Ia banyak beralasan dan tidak menerima kenyataan. Hasilnya pun kegagalan.

Lain halnya dengan Impian. Impian adalah gambaran yang jelas akan sebuah cita-cita besar. Kita juga punya keyakinan untuk mengejarnya. “Memang salah aku ingin anakku jadi insinyur? Memang salah aku ingin jadi pengusaha sukses? Memang salah ingin mempunyai negara adikuasa?” Keyakinan yang kuat membuat kita punya gagasan untuk mengejarnya dan punya jadwal kerja untuk mencapainya. Selanjutnya kita fokus pada pekerjaan itu. Kalau kita kurang fasilitas, kita tidak bingung. Bagaimana keadaannya , aku harus bisa! Berbeda dengan orang banyak angan-angan yang bingung, banyak alasan dan kurang bersyukur, orang tinggi impian tidak bingung, tidak banyak alasan dan banyak bersyukur. Ia pun terkondisikan menjadi orang yang sabar. Kalau ada masalah, ia akan selalu berpikir, “Bagaimana caranya?” Tanpa banyak bicara , “seandainya kalo..

Umat Islam terlalu besar untuk bermimpi kecil. Islam terlalu mulia untuk orang yang tidak punya impian.

 

Husain Matla

Islamic Motivator pada Agen Misi Corp

Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *