Merawat Wanita Lewat Pesantren

Oleh: Abdisita Sandhyasosi

Pepatah mengatakan bahwa wanita adalah tiang negara. Hal ini menunjukkan bahwa tegak tidaknya martabat sebuah negara banyak ditentukan oleh wanita  yang tinggal di negara tersebut. Jika  tegaknya martabat sebuah negara itu diukur dari keberdayaan wanitanya , maka berarti tegaknya martabat negara itu identik dengan keberdayaan wanitanya. Oleh karena itu demi tegaknya martabat sebuah negara atau tepatnya martabat sebuah negeri,   maka  penguasa negeri semestinya memberdayakan kaum wanitanya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keberdayaan adalah kemampuan menjalankan tugasnya dengan baik.  Jika keberdayaan itu dikaitkan dengan wanita, maka hal itu berarti  kemampuan wanita menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam  ajaran Islam, kemampuan wanita  menjalankan tugasnya dengan baik itu dapat dilihat dari, antara lain,  seberapa jauh ia taat kepada suaminya atau seberapa jauh ia mampu mengurus rumah tangganya  dan    dapat mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebagaimana bunyi hadits berikut ini.

“Wanita adalah penanggung jawab di rumah suami serta dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dibawahinya.” (HR Al Bukhari, no 893)

Namun kenyataannya, keberdayaaan wanita di negeri ini masih tergolong rendah , setidaknya menurut penilaian penulis. Salah satu indikator rendahnya keberdayaan wanita di negeri ini adalah  tingginya angka perceraian di negeri ini.

Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, termasuk negara dengan angka perceraian tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Sebagaimana yang dilansir dalam situs resmi Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Berdasarkan data yang ada, pada tahun 2010, dari dua juta pasangan menikah, terjadi 285.184 kasus perceraian. Artinya,   rata- rata 1 dari 10 pasangan menikah,  berakhir dengan perceraian di pengadilan. Sedangkan menurut data Kementerian Agama (Kemenag) tercatat,  setiap tahunnya terjadi 212.000 kasus perceraian di Indonesia.  Padahal sepuluh tahun sebelumnya jumlah kasus perceraian hanya berkisar 50.000 per tahun. Ini berarti jumlah kasus perceraian  meningkat tajam.

Dalam skala yang lebih kecil, misalnya, tingkat kabupaten Jember, berdasarkan laporan Radar Jember (Jawa Pos Group) tanggal 8 Februari 2014, tercatat  jumlah kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Jember pada tahun 2013 sebanyak 8.412 kasus, pada tahun sebelumnya sebanyak 7.904 kasus.   Dari data itu dapat disimpulkan bahwa  jumlah kasus perceraian di Jember mengalami peningkatan.  Yang  sungguh  memprihatinkan adalah  hampir 80 persen  kasus perceraian terjadi pada pasangan  berusia muda dan umumnya yang berinisiatif  minta cerai adalah pihak wanita.

Fenomena tingginya wanita sebagai  pelaku penggugat cerai tersebut memberikan indikasi rendahnya keberdayaan wanita dalam rumah tangganya. Faktor- faktor penyebabnya boleh jadi karena ketidaksiapan wanita dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan kurang pahamnya wanita terhadap tugas dan kewajibannya sebagai istri.

Dalam kehidupan sehari- hari,  masih banyak kita jumpai wanita- terutama gadis- yang membayangkan bahwa kehidupan pernikahan itu selalu indah  bak pernikahan Cinderella dan Pangeran atau menganggap calon suaminya  yang hendak menikahinya itu lelaki sempurna seperti Rasulullah saw. Sehingga ketika sudah menikah dan menghadapi persoalan- persoalan rumah tangga yang pelik, merasa kecewa.  Tidak  jarang wanita menyerah sebelum problematika rumah tangganya diselesaikannya bersama suaminya. Ketika sang  suami tiba- tiba berpenampilan rapi dan bekerja lembur, ia  mencurigai suaminya selingkuh. Ketika  sang suami tiba- tiba memarahinya dan berlaku kasar  kepadanya, ia   menilai suaminya telah  melakukan kekerasan seksual kepadanya. Ketika sang suami tiba- tiba tidak memberinya uang belanja sesuai dengan keinginannya,  ia menganggap suaminya tidak perhatian dan diam- diam pulang ke rumah orang tuanya.

Sebelum memasuki jenjang pernikahan, semestinya seorang wanita memiliki pemahaman bahwa  pernikahan itu merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt  yang bertujuan untuk mendapatkan ketentraman dan keturunan.  Oleh karena itu sebelum menikah seorang wanita harus memiliki kesiapan. Tidak hanya kesiapan fisik tetapi juga kesiapan mentalnya. Kesiapan fisik itu berkaitan dengan keadaan kesehatan reproduksinya yang prima.  Sedangkan kesiapan mental berkaitan dengan kemampuannya menerima,  memahami dan memperlakukan suaminya sebagai pemimpin rumah tangganya seutuhnya.

Allah swt berfirman,

“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian yang lain (wanita) dan mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka. (QS An-Nisa:34)

Mengenai kesiapan mental tersebut, seorang wanita bisa memperolehnya di lembaga pendidikan pra nikah seperti program khusus pra nikah yang diadakan beberapa pesantren puteri. Dengan demikian, jika kita menginginkan negeri ini tegak bermartabat  maka  didiklah kaum wanitanya di pesantren puteri.

Bondowoso, 4 Desember 2016.

Artikel ini dikutip dari buku antologi SPN (Sahabat Pena Nusantara) yang terbit tahun 2017 dengan judul:’ Merawat Nusantara” halaman 172.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *