Satu Komando, Bergerak Harmonis

Oleh : El Faroq

Laa ilaha illallah..

Berdakwah bukanlah sesuatu yang ringan dan mudah, kenapa dipersulit?. Di ibaratkan menyampaikan “kebenaran” adalah kekayaan yang luas,indah,dan berat. Ingin rasanya untuk membagikannya, tapi itu tidaklah mudah. Butuh dari kata “Aku” menjadi “Kita”, “Sendiri” menjadi “Bersama”, “Benci” menjadi “Cinta”. Maka hal istimewa ini dapat dibagikan dengan mudah melalui kebersamaan dan dijalankan dengan cinta.

 

Mengambil peran dalam berdakwah dengan memulainya dari kata “Cinta”. Kata tersebut menjadi landasan dalam tiga aspek bahasan dalam membangun sebuah pergerakan dakwah yang harmonis dan terpusat yaitu taat, ikhlas, dan ukhuwah.

 

Cinta dalam ketaatan

 

Cinta menjadi unsur terpenting dalam bergerak bersama. Cinta dalam berdakwah, disitu akan ada lebih dari seribu perjuangan yang rela dilakukan karena dasar dakwah kita adalah cinta karena Allah swt. Dalam pergerakan dakwah berkelompok supaya tercapai target – target dakwah kita diperlukan pergerakan yang harmonis dengan satu komando. Maka, komando yang diberikan oleh pemimpin dalam suatu kelompok dakwah haruslah ditaati kecuali bila bermaksiat kepada Allah swt.

 

Taat kepada pemimpin tidak begitu mudah. Umar bin Khattab pernah tidak terima untuk dipimpin oleh Amr bin ash pada suatu penyerangan, namun pada saat itu ada Abu bakar yang mengingatkan dirinya bahwa ini adalah perintah Rasullulah. Hingga pada akhirnya dengan kepemimpinan Amr bin Ash mendapatkan kemenangan.

 

Taatlah kepada pemimpin karena dasar cinta kita kepada Allah swt. demi terbangunnya kepercayaan anggota dengan pemimpin, terjalinnya tali persaudaraan yang kuat, dan kemenangan yang nyata.

 

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Al Fath:01)

 

Ikhlas, keraguan sirna

 

Hal yang membuat gerakan dakwah tidak harmonis persaingan demi keuntungan materil, cinta kedudukan, takut, dan tamak.

 

Persaingan demi keuntungan materil, sederhananya persaingan ini terbentuk berdasarkan kemaun tersendiri untuk memperoleh hasil terbaik dan buahnya adalah materi. Nah,pada saat itu ego yang didahulukan dan tidak melihat bahwa kita sedang terlibat bersama. Kata “ Harmonis” tiba-tiba lenyap tidak terlihat wujudnya.

 

Begitu pula cinta terhadap kedudukan, penyakit terburuk adalah ketika seorang mulai menikmati kedudukan atau posisinya agar diperhatikan seseorang serta bangga terhadap sanjungan. Maka disitu ada ambisi untuk memperoleh kehormatan tertinggi. Hal ini juga dapat membukakan pintu menuju “Syirik yang samar”, yaitu riya dan ujub , sekaligus menghancurkan keikhlasan.

 

Takut dan tamak,hal yang mendasari takut ini dan takut itu sehingga timbul keraguan.

 

Sungguh, wahai pejuang dakwah apakah dirimu rela di sandingkan dengan penyakit – penyakit ikhlas ini. Jangan, sedikitpun engkau rela dan memberi ruang pada penyakit – penyakit ini. Dirimu terlahir mulia dan tujuan kita sama “Jannah”. Maka deklarasikan cinta Islam ini kepada saudara – saudaramu dari mari berjalan bersama dalam kebenaran.

 

“ Ya Allah. dengan kebenaran surah Al-Ikhlas jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang bisa berbuat ikhlas dan dibuat ikhlas. Amin.. amin.”

 

Ukhuwah, benteng umat

 

Masalah terbesar umat ini adalah sikap permusuhan terhadap saudara seiman. Maka, musuhilah rasa permusuhan yang timbul dalam dirimua.

 

Ukhuwah adalah sebuah sifat yang bertolak belakang dengan permusuhan. Ada sebuah perumpaman yang sangat familiar bagi kita :

 

“ apabila sapu lidi cuma ada satu batang, tidak akan berpengaruh apa pun dan akan mudah patah. jika disatukan membentuk sebuah sapu, akan semakin kuat dan tidak mudah patah”

 

Namun, Ukhuwah memiliki makna yang lebih dari sekedar sapu lidi. Bisa dibilang konteksnya hati ke hati, rela mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri.Jika ukhuwah dimaknai lebih sederhana seperti ini “mengajak orang-orang beriman untuk menjalin rasa persaudaran dan mencintai sesama.”

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran:110)

 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”(Ali Imran:104).

 

referensi :

 

Risalah Pergerakan : Ikhwanul Muslimin – Hasan Al Banna

Risalah ikhlas dan Ukhuwah – Badiuzzaman Said Nursi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *