Tidakkah engkau cemburu!?

Oleh El Faroq

Dimana rasa cemburu kita melihat muslimah dilecehkan. Apakah kasus-kasus di Suriah belum dapat menggerakan hati kita. Bukan hanya di Suriah,negara lain juga tidak luput dengan pelecahan yang dilakukan oleh kamu Kuffar dengan dalih Islamphobia. Setelah terpilihnya presiden Amerika Donald Trump, kasus Islamphobia semakin menjadi. Salah satu kasusnya yang ramai diberitakan adalah pemaksaan pelepasan hijab kepala dengan ancaman akan dibakar hidup-hidup. Astagfirullah, hal ini mengingatkan pada sebuah kisah pengusiran Bani Qainuqa dan Penaklukan Amoria. Kisah ini menarik sekali untuk dibahas,hanya satu teriakan seorang muslimah mampu membangkitkan ghirah sepasukan tantara muslim demi mengembalikannya pada posisi dan kehormatan semula.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam, bahwa seorang wanita Arab pergi ke Bani Qainuqa’ dengan membawa sebuah barang yang hendak dijual di pasar itu. Ia duduk di sebelah tukang sepuh. Mereka menginginkan agar dia membuka wajahnya tetapi ia menolak. Seketika itu si tukang sepuh mengikatkan ujung pakaian wanita muslimah tadi dengan punggungnya, sehingga ketika wanita itu berdiri, terbukalah auratnya. Mereka tertawa girang dan menjeritlah wanita itu. Mengetahui hal ini, dengan cepat seorang muslim mendekat dan membunuh tukang sepuh itu ( rupanya dia seorang Yahudi ). Seketika itu juga teman si Yahudi balas mengeroyok hingga muslim tersebut syahid. Bangkitlah emosi kaum Muslimin.

Rasulullah saw. datang dengan membawa pasukan untuk memberi pelajaran kepada mereka dan berakhir dengan pengusiran Bani Qainuqa’ dari Madinah.

Hanya dengan sebuah teriakan seorang muslimah dapat mengetarkan sekian hati, yang dalam hati mengalir darah perjuangan yang menyatu dengan ghirah dan wibawanya. Membangiktkan para rijal ( Lelaki ) sejati. Tertanamkan dalam jiwa kaum muslimin demi membela kehormatan.

Sejak detik itu, wanita terpelihara kehormatannya didengarkan jeritanya. Mereka merasa bahwa wanita adalah kehormatan, walaupun tiada hubungan dengannya kecuali jalinan aqidah Islam.

Mu’tashim ( Salah seorang Khalifah Daulah Abasiyah ), ketika itu ada seorang muslimah dianiaya dan dihina kehormatannya lalu menjerit, “Wa Mu’tashima ( Dimana engkau Mu’tashim ). Kabar itu sampai ke Khalifah Mu’tashim, pada saat itu posisinya sedang istirahat di Masjid. Setelah mendengarkan kabar itu tidak ada kata istirahat baginya, Seketika itu ia Bangkit dan langsung bergegas dengan membawa seluruh pasukannya menuju Amoria ( Kota tempat muslimah dilecehkan ). Dikisahkan barisan pasukannya tidak pernah putus dari Baghdad hingga Amoria. Perang tersebut berakhir dengan ditaklukannya Amoria.

Namun sekarang, betapa banyak jeritan yang menggema dan hanya membisu , menghilang begitu saja. Jeritan muslimah terus menggema tanpa seorangpun peduli. Sungguh telah tekubur kejayaan generasi pertama, Telah tiada generasi Mu’tashim, dan hilang pula semangat dan wibawa Mu’tashim. Yang tersisa hanya para lelaki yang hatinya telah membatu. Tersembunyi kejantanan mereka, tiada mereka tunjukkan nyali mereka kecuali kepada saudara sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Rujukan : Rambu – Rambu Tarbiyah ( Dalam sirah Nabi )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *