Qatar, Ikhwanul Muslimin, dan Al Jazeera – Dalam blokade negara teluk

Oleh : El Faroq

Pada bulan juni lalu Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Uni Emirat Arab dan Yaman — menyusul Libya, Maladewa, serta Mauritius — memutuskan hubungan dengan Qatar. Dengan tuduhan bahwa Qatar telah mendukung gerakan terorisme, Bekerjasama dengan Iran — Iran memiliki pandangan yang berbeda dengan Arab Saudi, Iran memandang monarki tidak sesuai dengan Islam sedangkan Arab Saudi beranggapan Iran adalah biang kekacauan timteng dengan kebijakannya yang mendukung Bashar al-assad dan kelompok Houthi di Yaman — diperkuat dengan isu pernyataan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, bahwa Iran merupakan “Kekuatan Islam besar “. Nyatanya pernyataan tersebut palsu akibat diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Namun, blokade yang dilakukan negara-negara teluk tidak akan menjerumus kepada perekonomian Qatar dalam waktu sebulan atau lebih. Qatar masih mampu menyuplai migas ke negara lain (Seperti : Turki, Cina, Jepang, dan sebagainya). Apabila blokade berlanjut dalam jangka panjang, maka mengakibatkan negara-negara timur tengah akan ikut mengalami dampaknya.

 

Mendukung “Ekstrimis”

Tuduhan negara-negara teluk bahwa Qatar mendukung Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan yang mereka labeli “ekstrimis” menjadi salah satu tuntutan penutupan stasiun TV Al Jazeera. Al Jazeera dinilai mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin dan sebagai faktor pendorong terjadinya musim semi Arab (Arab Spring) 2011.

Tuduhan semacam ini bukan hal baru bagi Al Jazeera. Al Jazeera kerap dituduh macam-macam. Dianggap sebagai media ekstrimis karena mewawancarai Taliban, memberi dukungan terhadap gerakan “ekstrimis” Daesh dan Al Qaeda, berpihak pada Israel karena memberikan ruang kepada politikus dan komentator Israel, dan bermacam tuduhan lainnya.

Apa yang berusaha di sampaikan oleh Al Jazeera adalah fakta lapangan yang akurat yang benar dan berimbang (Tidak memihak). Apakah mungkin Al Jazeera pro-Daesh, pro-Al Qaeda, pro-Hizbullah, pro-Hamas, pro-Ikhwanul Muslimin, pro-Israel, pro-Amerika. Ini adalah sebuah hal yang tidak mungkin bila Al Jazeera pro terhadap semuanya pada saat yang bersamaan.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan manuver politik yang dilakukan syeikh Hamad sebagai Emir Qatar. Di Qatar, Hamas diberikan tempat untuk mendirikan kantor — kantor tersebut ditutup bulan juni lalu, bukan Qatar yang melarang. Melainkan pihak Hamas tidak ingin menyusahkan Qatar akibat dari krisis blokade yang dilancarkan negara teluk — begitu pula Taliban. Hal ini dilakukan agar mempermudah mediasi terhadap Israel dengan Hamas atau Amerika Serikat dengan Taliban.

Politik ‘honest broker’ yang dilakukan Qatar menempatkannya pada posisi yang unik dan tak lazim bagi negara teluk. Politik mediasi ini mengungguli dominasi Arab Saudi sebagai “Polisi Timteng”. Qatar hadir sebagai negara mediator dalam konflik antar negara.

Qatar tempat bagi Ikhwanul Muslimin

Qatar memberikan tempat kepada anggota-anggota Ikhwanul Muslimin adalah hal yang biasa. Hubungan Qatar dengan Ikhwanul Muslimin lebih bersifat mutualisme. Dimana pada tahun 1950,1960, dan 1970an Qatar bukanlah negara kaya yang memiliki masa depan. Pada rentang tahun-tahun tersebut Qatar masih dibawah kolonialisme Inggris dan memiliki pergerakan ekonomi yang lambat yang masih bergantung pada sektor mutiara dan perikanan.

Karena sistem pendidikan yang masih informal. Qatar berkiblat pada model pendidikan di Kairo yang memiliki pendidikan tinggi ikonik seperti Universitas Al Azhar dengan mengesampingkan pengaruh Ikhwanul Muslimin. Secara tidak langsung, sangat memungkinkan anggota-anggota Ikhwanul Muslimin masuk di Qatar. Melihat, pada saat itu Ikhwanul Muslimin menguasi sektor pendidikan di Mesir.

Mengesampingkan bukan berarti tidak terbuka terhadap Ikhwanul Muslimin. Faktanya Qatar memberikan keterbukaan kepada Ikhwanul Musilimin dengan menerima ulama fenomenal yang menjadi buronan politik di Mesir sepeti Sheikh Yusuf Al Qardhawi. Peran Sheikh Yusuf Qardhawi di Qatar sudah ada sejak tahun 1961 ketika dia pergi dari mesir dan mendirikan institute yang mengkaji tentang Syariah — cikal bakal fakultas Syariah di Universitas Qatar, dimana dia menjadi dekan –.

sumber kajian :

– kajian : Ikhwanul Muslimin dan ‘Islam Politik’ di Qatar oleh Nostalgiawan Wahyudi, M. A (15 juli 2017).

– situs : lipi.go.id, aa.com.tr, kumparan.com, mirajnews.com

Sumber Photo :

qatarairways.com, ismaweb.net, aljazeera.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *